Minggu, 25 Mei 2014

Cerpen atau song fict Speak Now



Aku suka sekali sama lagunya Taylor Swift yang judulnya "Speak Now". Jadi aku buat song fic aka cerpen dari lagu ini. Ini asli karya aku sendiri ya dengan setting lagu speak now. hehe


SPEAK NOW


KRIIIIING!!!!
Suara nyaring yang memekakkan telinga itu berasal dari benda kecil berbentuk kepala Teddy bear. Benda itu terus berteriak nyaring seakan tidak akan berhenti sebelum sang empunya bangun dari tidurnya. Gadis yang tengah menutup kepalanya dengan bantal itu mencoba mengindahkan suara nyaring dari jam weker yang berada di nakas dekat tempat tidurnya. Ia semakin mengeratkan bantal di samping telinganya, berharap suara nyaring menyebalkan yang mengganggu tidurnya itu berhenti. Tapi sialnya, benda itu terus saja berbunyi membuat sang gadis terpaksa bangun dan melemparkan bantal ke sembarang tempat.
“Aissh, menyebalkan sekali. Tidak tahu apa kalau semalam aku hanya tidur 3 jam?” Gadis itu mendumel tidak jelas sambil mematikan benda yang sudah dengan lancangnya menggangu tidurnya yang singkat itu. Dilihatnya, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Gadis itu melenguh pelan, lalu segera beranjak menuju meja riasnya. Ia tampak terkejut ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Matanya sembab, kantung mata bergelayut disana mirip sekali dengan Panda. Wajahnya kusut, rambutnyapun benar-benar berantakan, belum lagi pipinya yang terlihat tirus, sungguh ini adalah keadaan terburuk yang pernah ia alami.
Apakah efek dari patah hati itu sebesar ini? Ya, benar. Gadis itu tengah mengalami patah hati. Semalaman dia menangis, entah sudah berapa banyak tissue yang dia habiskan. Belum lagi dari kemarin dia tidak makan sedikitpun. Mungkin terdengar berlebihan, tapi pada kenyataannya jika siapapun berada dalam posisinya, pasti akan mengalami hal yang sama dengan gadis ini. Siapa yang tidak akan menangis semalaman, jika lelaki yang begitu ia kagum dan cintai akan menikah dengan wanita lain? Dan kalian tahu kapan lelaki pujaan hatinya itu akan menikah? Hari ini, ya hari ini. Benar-benar tragis, bukan?
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu itu menghentikan sejenak tatapan miris gadis itu. Ia tengokkan kepalanya ke arah pintu kamarnya. “Masuk! Pintunya tidak dikunci.” Sahutnya. Saat itu terlihatlah seorang gadis imut berambut pendek memasuki area kamar. Dengan sedikit terkejut ia menghampiri gadis yang tengah duduk di depan meja riasnya.
“Hei Jessica! apa yang terjadi denganmu? Kau tampak berantakan sekali.” Gadis bernama Jessica itu hanya mendesah kasar mendengar pertanyaan dari sahabatnya, Karen.
“Jangan bilang kau habis menangis semalaman?” BINGO!! Tebakan Karen sangat tepat. Jessica masih saja bungkam. Namun tanpa dijawabpun, Karen sudah tahu bahwa tebakannya itu benar.
“Oh ayolah Jessica. Kau bilang kau sudah bisa merelakan Mario.”
“Entahlah, ini benar-benar membuatku frustasi.”
“Aku mengerti perasaanmu, tapi apa kau akan terus-terusan seperti ini? Kau tidak mau hadir ke pesta pernikahan Mario dan Nicol?” Tanya Karen.
“Aku rasa tidak. Aku tidak akan kuat melihatnya.” Jawab Jessica sambil menundukkan kepalanya.
“Kau tahu Jessica, padahal aku berfikir kau akan memperjuangkan cintamu. Aku tahu kau dan Mario itu saling mencintai, dia hanya terlalu bodoh untuk menyadari itu.”
“Itu tidak mungkin. Mario tidak mungkin mencintaiku.” Keluh Jessica.
“Dari mana kau tahu kalau Mario tidak mencintaimu, hah? Kau jangan ikut-ikutan bodoh. Jessica yang ku kenal adalah gadis yang akan memperjuangkan impiannya.” Sahut Karen dengan penuh semangat.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Jessica. Karen tampak berbisik pada Jessica, setelahnya ia tersenyum penuh arti.
===***===
Gadis dengan gaun berbentuk kue itu tampak sedang mematut dirinya di depan cermin besar yang ada sebuah ruangan khusus. Gadis itu, Nicol tidak henti-hentinya mengukir senyum di bibirnya. Pasalnya dalam bayangannya hari ini akan menjadi hari yang paling bersejarah dan tidak akan pernah terlupakan selama hidupnya, hari pernikahannya dengan Mario, pria yang menjadi obsesinya.
Entah sejak kapan, Jessica sudah memasuki Hall Room tempat akan diadakannya resepsi. Ia mengendap dan melihat teman-teman Mario dan beberapa keluarga dari Nicol
“Cih menyebalkan, warna cerah itu sangat tidak cocok dipakai mereka. Terlihat aneh.” Cibir Jessica pada keluarga Nicol yang semuanya memakai baju berwarna pastel. Jessica terus menelusuri ruangan itu. Mencoba mencari sosok Mario. Namun rupanya bukan Mario yang ia temukan, tapi justru Jessica mendengar suara Nicol yang berteriak pada perngiring pengantin perempuan. Itu artinya upacara pernikahan akan segera dimulai. Jessica mulai sedikit panik dan melamun.

This is surely not what you thought it will be. I lose myself in the daydream where I stand and stay.

“Aku tahu ini gila, dan ini tentu bukan yang kau pikirkan, Mario. Tapi saat ini aku tengah tenggelam dalam lamunan dimana aku berdiri dan berada.” Batin Jessica.
===***===
Kini semua keluarga dari calon pengantin dan tamu undangan sudah memadati kursi di dalam gereja tempat akan dilaksanakannya upacara pernikahan Mario dan Nicol. Mario sudah menunggu di depan altar dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya, sementara Nicol baru akan memasuki gereja ditemani dengan pengiringnya. Tepat saat mempelai wanita memasuki gereja, pianopun mulai dimainkan. Bagi Jessica, lagu yang terdengar seperti lagu kematian. Dia yang berdiri di bagian samping gereja jelas menatap tajam ke arah Nicol, tatapannya mengisyaratkan kebencian. Nicol yang tak sengaja melirik ke arah samping, menangkap sosok gadis yang sangat tidak dia inginkan datang ke pesta pernikahannya ini. Tapi ia buang jauh-jauh pikiran bahwa sosok itu adalah Jessica. Terlihat dari gerturnya yang sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya. Padahal siapa sangka, ternyata sosok yang dilihatnya itu memang Jessica, hanya saja tadi Jessica dengan gesit bersembunyi di balik tirai.

She floats down the aisle like a pageant queen. But I know you wish it was me, you wish it was me, don’t you?

Nicol terus berjalan menyusuri lorong gereja bak ratu kecantikan. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajah menyebalkannya itu. Jessica keluar dari persembunyiannya, ia tatap sosok Mario yang berada di depan sana. Wajah Mario sama sekali tidak menampakkan bahwa dia tengah bahagia menunggu mempelai wanitanya sampai di depan altar.
“Aku tahu kalau kau mengharapkan itu aku, benarkan?” Gumam Jessica sambil tersenyum menatap sosok Mario.
===***===
Kini kedua mempelai telah berdiri di depan altar berhadapan dengan seorang pendeta yang katakanlah sudah tua. Kira-kira usianya sekitar 70th. Pendeta itu siap membimbing kedua mempelai untuk mengucapkan sumpah pernikahan.
“Untuk mempelai wanita, Nicol. Apakah kau bersedia hidup bersama suamimu, menerimanya dalam keadaan senang dan susah?” Tanya pendeta tua itu.
“Ya, saya bersedia.” Jawab Nicol dengan mantap dan penuh percaya diri. Sekarang tiba giliran mempelai pria yang akan mengucapkan sumpahnya.
“Baik, untuk mempelai pria, Mario. Apakah kau bersedia hidup bersama istrimu, menerimanya dalam keadaan senang maupun sedih?” Tidak ada jawaban dari Mario, ia hanya menatap kosong pendeta dihadapannya. Entah ia menyadari atau tidak, pendeta itu sudah mengucapkan pertanyaan itu sebanyak 3 kali, namun Mario masih tetap membisu.

Don’t say yes, run away now. I’ll meet you when you’re out of the church at the back door. Don’t wait or say a single vow. You need to hear me out, and they said “speak now”

“Ku mohon jangan katakana Iya, berlarilah sekarang. Aku akan menemuimu di saat kau keluar gereja di pintu belakang. Jangan menunggu, atau ucapkan janji. Kau harus mendengarkanku.” Jessica terus menggumamkan kata-katanya yang terdengar seperti sebuah do’a. Sambil menelungkupkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya, ia benar-benar berharap Mario akan bisa merasakan ikatan batin dengannya.
“Saudara Mario, apakah Anda mendengar suara saya?” Ujar pendeta itu berusaha menyadarkan Mario yang terlihat linglung. Nicol yang berada di sampingnya terus memanggil nama Mario sambil menggungcangkan tubuhnya. Wajah Nicol nampak gelisah. Para tamu saling berbincang, suasana menjadi gaduh, mereka berkata pada mempelai pria untuk segera mengucapkan janjinya.

I hear the preacher say, “Speak now or forever hold you peace.”

Setelah itu dengan lantang si pendeta berucap, “Bicaralah sekarang atau diam selamanya.” Semua diam, tidak ada lagi suasana gaduh, dan itulah kesempatan terakhir untuk Jessica. Ia berdiri dengan dengan tangan gemetar, semua mata tertuju padanya. Nampak wajah-wajah ketakutan dari semua orang yang berada di dalam ruangan. Tetapi, Jessica hanya focus pada satu arah, yaitu Mario.

I am not the kind of girl, who should be rudely barging in on a white veil occation. But you are not the kind of boy, who should be marrying the wrong girl.

“Aku bukan tipe gadis yang ingin mengacaukan upacara pernikahan. Tapi, aku tahu kau juga bukan tipe laki-laki yang mau menikah dengan gadis yang salah.” Dengan suara yang sedikit bergetar, Jessica mengucapkan kata-kata itu dengan cukup lantang. Semua tamu sontak terkejut dengan apa yang mereka saksikan tadi, tidak terkecuali Nicol. Bahkan matanya membelalak seperti mau keluar dari tempatnya, mulutnya menganga lebar. Mario yang tampak takjub dengan aksi Jessica, baru tersadar. Seketika senyum merekah diwajahnya. Ia mantapkan hatinya untuk mengakhiri pernikahan konyol ini. Ucapan gadis bernama Jessica itu mampu menghilangkan semua keraguan dan kebimbangan hatinya. Mario berjalan ke tempat dimana Jessica berdiri.

And you’ll say “Let’s run away now”. I’ll meet you when I’m out of my tux at the back door.” Baby, I didn’t say my vows. So glad you were around, when they said “Speak now.”

“Ayo kita lari sekarang!” Mario mengulurkan tangannya saat sudah tepat berada di depan Jessica. Jessica tersenyum bahagia, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak percaya semua ini terjadi. Sebelum menerima uluran tangan Mario, Jessica menatap sebentar ke arah Karen. Ia seolah meminta persetujuan dari Karen. Bagaimanapun ini adalah ide Karen, dia yang sudah memberinya motivasi untuk memperjuangkan cintanya. Karen yang mengerti akan hal itu, mengangguk pasti seolah mengisyaratkan “pergilah”.
Jessica dan Mario saling bergandengan tangan, mereka berlari menuju pintu keluar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan ucapan-ucapan dari orang-orang di gereja itu. Namun langkah mereka tiba-tiba saja terhenti.
“Mariiooooooo!!! Jangan tinggalkan aku!! Aku mencinaimu, Hiks..”. Teriakan Nicol yang menggema disertai isak tangis yang memilukan, membuat Mario menghentikan langkahnya. “Tunggu aku di pintu belakang.” Ucap Mario pada Jessica. Ia balikkan badannya dan kembali menuju altar dimana Nicol berdiri. Melihat Mario kembali, Nicol langsung tersenyum bahagia, dia berfikir Mario telah berubah fikiran dan akan melanjutkan pernikahan dengannya. Sesampainya di depan Nicol, Mario malah membuka tuxedo putihnya dan memberikannya pada Nicol.
“Maaf, aku tidak bisa membalas cintamu. Dan aku rasa tuxedo ini tidak pantas untukku. Ku harap kau bisa menemukan orang yang tepat untuk memakai tuxedo ini ketika bersanding di altar bersamamu.” Ucap Mario tulus, dia sunggingkan senyum termanisnya untuk Nicol. Anggaplah sebagai senyuman perpisahan. Mario kembali berlari keluar gereja, ia akan menemui pujaan hatinya, gadis yang sebenarnya ia cintai dan ingin dia nikahi, siapa lagi kalau bukan Jessica. Nicol hanya bisa menangis, meratapi nasibnya yang menyedihkan. Dia bersumpah, hari ini benar-benar akan menjadi hari yang bersejarah dan tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Bukankah begitu Nicol? :D

=== THE END ===

Tidak ada komentar:

Posting Komentar