Aku suka sekali sama lagunya Taylor Swift yang judulnya "Speak Now". Jadi aku buat song fic aka cerpen dari lagu ini. Ini asli karya aku sendiri ya dengan setting lagu speak now. hehe
SPEAK NOW
KRIIIIING!!!!
Suara nyaring yang memekakkan telinga
itu berasal dari benda kecil berbentuk kepala Teddy bear. Benda itu terus
berteriak nyaring seakan tidak akan berhenti sebelum sang empunya bangun dari
tidurnya. Gadis yang tengah menutup kepalanya dengan bantal itu mencoba
mengindahkan suara nyaring dari jam weker yang berada di nakas dekat tempat
tidurnya. Ia semakin mengeratkan bantal di samping telinganya, berharap suara
nyaring menyebalkan yang mengganggu tidurnya itu berhenti. Tapi sialnya, benda
itu terus saja berbunyi membuat sang gadis terpaksa bangun dan melemparkan
bantal ke sembarang tempat.
“Aissh, menyebalkan sekali. Tidak
tahu apa kalau semalam aku hanya tidur 3 jam?” Gadis itu mendumel tidak jelas
sambil mematikan benda yang sudah dengan lancangnya menggangu tidurnya yang
singkat itu. Dilihatnya, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Gadis itu
melenguh pelan, lalu segera beranjak menuju meja riasnya. Ia tampak terkejut
ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Matanya sembab, kantung mata
bergelayut disana mirip sekali dengan Panda. Wajahnya kusut, rambutnyapun
benar-benar berantakan, belum lagi pipinya yang terlihat tirus, sungguh ini
adalah keadaan terburuk yang pernah ia alami.
Apakah efek dari patah hati itu
sebesar ini? Ya, benar. Gadis itu tengah mengalami patah hati. Semalaman dia
menangis, entah sudah berapa banyak tissue yang dia habiskan. Belum lagi dari
kemarin dia tidak makan sedikitpun. Mungkin terdengar berlebihan, tapi pada
kenyataannya jika siapapun berada dalam posisinya, pasti akan mengalami hal
yang sama dengan gadis ini. Siapa yang tidak akan menangis semalaman, jika lelaki
yang begitu ia kagum dan cintai akan menikah dengan wanita lain? Dan kalian tahu
kapan lelaki pujaan hatinya itu akan menikah? Hari ini, ya hari ini.
Benar-benar tragis, bukan?
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu
itu menghentikan sejenak tatapan miris gadis itu. Ia tengokkan kepalanya ke
arah pintu kamarnya. “Masuk! Pintunya tidak dikunci.” Sahutnya. Saat itu
terlihatlah seorang gadis imut berambut pendek memasuki area kamar. Dengan
sedikit terkejut ia menghampiri gadis yang tengah duduk di depan meja riasnya.
“Hei Jessica! apa yang terjadi
denganmu? Kau tampak berantakan sekali.” Gadis bernama Jessica itu hanya
mendesah kasar mendengar pertanyaan dari sahabatnya, Karen.
“Jangan bilang kau habis menangis
semalaman?” BINGO!! Tebakan Karen sangat tepat. Jessica masih saja bungkam.
Namun tanpa dijawabpun, Karen sudah tahu bahwa tebakannya itu benar.
“Oh ayolah Jessica. Kau bilang kau
sudah bisa merelakan Mario.”
“Entahlah, ini benar-benar membuatku
frustasi.”
“Aku mengerti perasaanmu, tapi apa
kau akan terus-terusan seperti ini? Kau tidak mau hadir ke pesta pernikahan
Mario dan Nicol?” Tanya Karen.
“Aku rasa tidak. Aku tidak akan kuat
melihatnya.” Jawab Jessica sambil menundukkan kepalanya.
“Kau tahu Jessica, padahal aku
berfikir kau akan memperjuangkan cintamu. Aku tahu kau dan Mario itu saling
mencintai, dia hanya terlalu bodoh untuk menyadari itu.”
“Itu tidak mungkin. Mario tidak
mungkin mencintaiku.” Keluh Jessica.
“Dari mana kau tahu kalau Mario tidak
mencintaimu, hah? Kau jangan ikut-ikutan bodoh. Jessica yang ku kenal adalah
gadis yang akan memperjuangkan impiannya.” Sahut Karen dengan penuh semangat.
“Lalu apa yang harus aku
lakukan?” Tanya Jessica. Karen tampak berbisik pada Jessica, setelahnya ia
tersenyum penuh arti.
===***===
Gadis dengan gaun berbentuk kue itu
tampak sedang mematut dirinya di depan cermin besar yang ada sebuah ruangan khusus.
Gadis itu, Nicol tidak henti-hentinya mengukir senyum di bibirnya. Pasalnya
dalam bayangannya hari ini akan menjadi hari yang paling bersejarah dan tidak
akan pernah terlupakan selama hidupnya, hari pernikahannya dengan Mario, pria
yang menjadi obsesinya.
Entah sejak kapan, Jessica sudah
memasuki Hall Room tempat akan diadakannya resepsi. Ia mengendap dan melihat
teman-teman Mario dan beberapa keluarga dari Nicol
“Cih menyebalkan, warna cerah itu
sangat tidak cocok dipakai mereka. Terlihat aneh.” Cibir Jessica pada keluarga
Nicol yang semuanya memakai baju berwarna pastel. Jessica terus menelusuri
ruangan itu. Mencoba mencari sosok Mario. Namun rupanya bukan Mario yang ia
temukan, tapi justru Jessica mendengar suara Nicol yang berteriak pada
perngiring pengantin perempuan. Itu artinya upacara pernikahan akan segera
dimulai. Jessica mulai sedikit panik dan melamun.
This is surely not what you thought
it will be. I lose myself in the daydream where I stand and stay.
“Aku tahu ini gila, dan ini tentu
bukan yang kau pikirkan, Mario. Tapi saat ini aku tengah tenggelam dalam
lamunan dimana aku berdiri dan berada.” Batin Jessica.
===***===
Kini semua keluarga dari calon
pengantin dan tamu undangan sudah memadati kursi di dalam gereja tempat akan
dilaksanakannya upacara pernikahan Mario dan Nicol. Mario sudah menunggu di
depan altar dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya, sementara Nicol baru
akan memasuki gereja ditemani dengan pengiringnya. Tepat saat mempelai wanita memasuki
gereja, pianopun mulai dimainkan. Bagi Jessica, lagu yang terdengar seperti
lagu kematian. Dia yang berdiri di bagian samping gereja jelas menatap tajam ke
arah Nicol, tatapannya mengisyaratkan kebencian. Nicol yang tak sengaja melirik
ke arah samping, menangkap sosok gadis yang sangat tidak dia inginkan datang ke
pesta pernikahannya ini. Tapi ia buang jauh-jauh pikiran bahwa sosok itu adalah
Jessica. Terlihat dari gerturnya yang sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.
Padahal siapa sangka, ternyata sosok yang dilihatnya itu memang Jessica, hanya
saja tadi Jessica dengan gesit bersembunyi di balik tirai.
She floats down the aisle like a
pageant queen. But I know you wish it was me, you wish it was me, don’t you?
Nicol terus berjalan menyusuri lorong
gereja bak ratu kecantikan. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajah
menyebalkannya itu. Jessica keluar dari persembunyiannya, ia tatap sosok Mario
yang berada di depan sana. Wajah Mario sama sekali tidak menampakkan bahwa dia
tengah bahagia menunggu mempelai wanitanya sampai di depan altar.
“Aku tahu kalau kau mengharapkan itu
aku, benarkan?” Gumam Jessica sambil tersenyum menatap sosok Mario.
===***===
Kini kedua mempelai telah berdiri di
depan altar berhadapan dengan seorang pendeta yang katakanlah sudah tua.
Kira-kira usianya sekitar 70th. Pendeta itu siap membimbing kedua
mempelai untuk mengucapkan sumpah pernikahan.
“Untuk mempelai wanita, Nicol. Apakah
kau bersedia hidup bersama suamimu, menerimanya dalam keadaan senang dan
susah?” Tanya pendeta tua itu.
“Ya, saya bersedia.” Jawab Nicol
dengan mantap dan penuh percaya diri. Sekarang tiba giliran mempelai pria yang
akan mengucapkan sumpahnya.
“Baik, untuk mempelai pria, Mario.
Apakah kau bersedia hidup bersama istrimu, menerimanya dalam keadaan senang maupun
sedih?” Tidak ada jawaban dari Mario, ia hanya menatap kosong pendeta
dihadapannya. Entah ia menyadari atau tidak, pendeta itu sudah mengucapkan
pertanyaan itu sebanyak 3 kali, namun Mario masih tetap membisu.
Don’t say yes, run away now. I’ll
meet you when you’re out of the church at the back door. Don’t wait or say a
single vow. You need to hear me out, and they said “speak now”
“Ku mohon jangan katakana Iya,
berlarilah sekarang. Aku akan menemuimu di saat kau keluar gereja di pintu
belakang. Jangan menunggu, atau ucapkan janji. Kau harus mendengarkanku.”
Jessica terus menggumamkan kata-katanya yang terdengar seperti sebuah do’a.
Sambil menelungkupkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya, ia
benar-benar berharap Mario akan bisa merasakan ikatan batin dengannya.
“Saudara Mario, apakah Anda mendengar
suara saya?” Ujar pendeta itu berusaha menyadarkan Mario yang terlihat
linglung. Nicol yang berada di sampingnya terus memanggil nama Mario sambil
menggungcangkan tubuhnya. Wajah Nicol nampak gelisah. Para tamu saling
berbincang, suasana menjadi gaduh, mereka berkata pada mempelai pria untuk
segera mengucapkan janjinya.
I hear the preacher say, “Speak now
or forever hold you peace.”
Setelah itu dengan lantang si pendeta
berucap, “Bicaralah sekarang atau diam selamanya.” Semua diam, tidak ada lagi
suasana gaduh, dan itulah kesempatan terakhir untuk Jessica. Ia berdiri dengan
dengan tangan gemetar, semua mata tertuju padanya. Nampak wajah-wajah ketakutan
dari semua orang yang berada di dalam ruangan. Tetapi, Jessica hanya focus pada
satu arah, yaitu Mario.
I am not the kind of girl, who should
be rudely barging in on a white veil occation. But you are not the kind of boy,
who should be marrying the wrong girl.
“Aku bukan tipe gadis yang ingin
mengacaukan upacara pernikahan. Tapi, aku tahu kau juga bukan tipe laki-laki
yang mau menikah dengan gadis yang salah.” Dengan suara yang sedikit bergetar,
Jessica mengucapkan kata-kata itu dengan cukup lantang. Semua tamu sontak
terkejut dengan apa yang mereka saksikan tadi, tidak terkecuali Nicol. Bahkan
matanya membelalak seperti mau keluar dari tempatnya, mulutnya menganga lebar.
Mario yang tampak takjub dengan aksi Jessica, baru tersadar. Seketika senyum
merekah diwajahnya. Ia mantapkan hatinya untuk mengakhiri pernikahan konyol
ini. Ucapan gadis bernama Jessica itu mampu menghilangkan semua keraguan dan
kebimbangan hatinya. Mario berjalan ke tempat dimana Jessica berdiri.
And you’ll say “Let’s run away now”.
I’ll meet you when I’m out of my tux at the back door.” Baby, I didn’t say my
vows. So glad you were around, when they said “Speak now.”
“Ayo kita lari sekarang!” Mario
mengulurkan tangannya saat sudah tepat berada di depan Jessica. Jessica
tersenyum bahagia, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak percaya semua ini
terjadi. Sebelum menerima uluran tangan Mario, Jessica menatap sebentar ke arah
Karen. Ia seolah meminta persetujuan dari Karen. Bagaimanapun ini adalah ide
Karen, dia yang sudah memberinya motivasi untuk memperjuangkan cintanya. Karen
yang mengerti akan hal itu, mengangguk pasti seolah mengisyaratkan “pergilah”.
Jessica dan Mario saling bergandengan
tangan, mereka berlari menuju pintu keluar. Mereka sama sekali tidak
mempedulikan ucapan-ucapan dari orang-orang di gereja itu. Namun langkah mereka
tiba-tiba saja terhenti.
“Mariiooooooo!!! Jangan tinggalkan
aku!! Aku mencinaimu, Hiks..”. Teriakan Nicol yang menggema disertai isak
tangis yang memilukan, membuat Mario menghentikan langkahnya. “Tunggu aku di
pintu belakang.” Ucap Mario pada Jessica. Ia balikkan badannya dan kembali
menuju altar dimana Nicol berdiri. Melihat Mario kembali, Nicol langsung
tersenyum bahagia, dia berfikir Mario telah berubah fikiran dan akan
melanjutkan pernikahan dengannya. Sesampainya di depan Nicol, Mario malah
membuka tuxedo putihnya dan memberikannya pada Nicol.
“Maaf, aku tidak bisa membalas
cintamu. Dan aku rasa tuxedo ini tidak pantas untukku. Ku harap kau bisa
menemukan orang yang tepat untuk memakai tuxedo ini ketika bersanding di altar
bersamamu.” Ucap Mario tulus, dia sunggingkan senyum termanisnya untuk Nicol.
Anggaplah sebagai senyuman perpisahan. Mario kembali berlari keluar gereja, ia
akan menemui pujaan hatinya, gadis yang sebenarnya ia cintai dan ingin dia
nikahi, siapa lagi kalau bukan Jessica. Nicol hanya bisa menangis, meratapi
nasibnya yang menyedihkan. Dia bersumpah, hari ini benar-benar akan menjadi
hari yang bersejarah dan tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Bukankah
begitu Nicol? :D
=== THE END
===
Tidak ada komentar:
Posting Komentar